Sekolah kerap dipahami semata-mata sebagai ruang formal untuk mentransfer pengetahuan sesuai kurikulum yang telah ditetapkan. Padahal, fungsi pendidikan sejatinya jauh melampaui penguasaan mata pelajaran.
Sekolah memiliki peran strategis sebagai lingkungan pembentuk kepribadian, karakter, dan ketahanan mental peserta didik. Dalam konteks kehidupan yang terus berubah dan penuh tantangan, kemampuan akademik saja tidak cukup.
Peserta didik perlu dibekali daya lenting mental agar mampu bertahan, bangkit, dan berkembang ketika menghadapi tekanan pada berbagai fase kehidupannya.
Kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan dikenal dengan istilah resiliensi. Resiliensi bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi juga kapasitas individu untuk beradaptasi secara positif ketika menghadapi situasi yang menantang.
Dalam dunia pendidikan, resiliensi menjadi kompetensi penting yang memungkinkan siswa menghadapi tuntutan akademik, tekanan sosial, serta dinamika perkembangan psikologis secara sehat dan produktif.
Resiliensi: Kemampuan yang Dapat Dikembangkan
Pemahaman tentang resiliensi telah berkembang secara signifikan. Reivich dan Shatte (2002) menegaskan bahwa resiliensi bukanlah sifat bawaan atau karakter genetik yang secara otomatis dimiliki seseorang sejak lahir.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Grotberg (1999) yang menyatakan bahwa resiliensi bukanlah kemampuan instan atau “keajaiban” psikologis, melainkan hasil dari proses pembelajaran dan interaksi individu dengan lingkungannya.
Berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa resiliensi bersifat state-like, artinya dapat dipengaruhi oleh konteks dan dikembangkan melalui pengalaman.
Resiliensi tumbuh melalui kombinasi faktor internal—seperti regulasi emosi, kepercayaan diri, dan motivasi—serta faktor eksternal yang mendukung. Faktor eksternal ini dikenal sebagai protective factors, yaitu elemen lingkungan yang berperan melindungi dan memperkuat individu dalam menghadapi tekanan.
Dalam kerangka tersebut, sekolah menempati posisi yang sangat penting sebagai external protective factor. Sekolah bukan hanya menyediakan struktur pembelajaran, tetapi juga membentuk iklim psikologis yang dapat memperkuat atau melemahkan ketahanan mental siswa. Lingkungan sekolah yang positif, aman, dan suportif terbukti berkontribusi besar dalam pengembangan resiliensi peserta didik.
School Engagement: Sekolah dan Ketahanan Mental
Salah satu konsep kunci yang menjelaskan hubungan antara sekolah dan resiliensi siswa adalah school engagement. Willms (2003) mendefinisikan school engagement sebagai keterlibatan psikologis peserta didik dengan sekolahnya, yang mencakup rasa memiliki, penerimaan terhadap nilai-nilai sekolah, serta partisipasi aktif dalam berbagai aktivitas pendidikan.
School engagement bukan sekadar kehadiran fisik di ruang kelas. Ia merupakan kondisi psikologis yang mencerminkan sejauh mana siswa merasa terhubung, dihargai, dan bermakna dalam lingkungan sekolah.
Ketika keterlibatan ini terbangun dengan baik, sekolah tidak lagi dipersepsikan sebagai ruang kewajiban, melainkan sebagai tempat bertumbuh dan berkembang.
Keterlibatan siswa dalam hubungan sosial dan kegiatan sekolah juga berkontribusi signifikan terhadap penguatan resiliensi. Garmezy dan Michael (1983) menjelaskan bahwa interaksi positif dengan teman sebaya, partisipasi dalam kegiatan olahraga, pengembangan minat dan bakat, serta keterlibatan dalam aktivitas keagamaan dapat menjadi sumber dukungan psikologis yang penting bagi peserta didik. Aktivitas-aktivitas tersebut memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri, belajar bekerja sama, serta mengelola emosi secara konstruktif.
Dampak terhadap Prestasi dan Perilaku
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa school engagement berkorelasi kuat dengan performa akademik dan perilaku siswa. Wang dan Halcombe (2010) menyatakan bahwa peserta didik yang memiliki tingkat keterlibatan sekolah yang tinggi cenderung menunjukkan capaian akademik yang lebih baik dibandingkan siswa yang kurang terlibat.
Selain itu, keterlibatan yang kuat juga berkaitan dengan sikap positif terhadap pembelajaran dan kepatuhan terhadap norma-norma sekolah.
Sebaliknya, rendahnya keterlibatan sekolah sering dikaitkan dengan berbagai masalah, mulai dari penurunan prestasi akademik hingga munculnya perilaku menyimpang.
Peserta didik yang merasa terasing dari lingkungan sekolah umumnya menunjukkan minat belajar yang rendah, tingkat kehadiran yang buruk, serta kecenderungan melanggar aturan. Hal ini menunjukkan bahwa school engagement bukan isu sekunder, melainkan komponen esensial dalam sistem pendidikan yang berorientasi pada perkembangan holistik siswa.
Peran Guru dalam Membangun Keterlibatan Siswa
Untuk menciptakan school engagement yang kuat, peran guru menjadi sangat krusial. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai figur pendukung yang membangun hubungan psikologis positif dengan peserta didik. Dukungan guru dapat diwujudkan dalam dua bentuk utama, yaitu dukungan akademik dan dukungan interpersonal.
Dukungan akademik mencakup pemberian umpan balik yang konstruktif, strategi pembelajaran yang adaptif, serta perhatian terhadap kebutuhan belajar siswa yang beragam.
Sementara itu, dukungan interpersonal terwujud melalui sikap empati, keterbukaan, dan keadilan dalam memperlakukan peserta didik. Ketika siswa merasa dihargai dan dipahami, keterlibatan psikologis mereka terhadap proses belajar akan meningkat secara signifikan.
Dukungan ini berkontribusi pada terbentuknya engagement dalam tiga ranah utama: perilaku, emosional, dan kognitif. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk fondasi keterlibatan siswa yang utuh.
Pengaruh Teman Sebaya
Selain guru, teman sebaya juga memiliki pengaruh besar terhadap keterlibatan siswa di sekolah. Konsep penerimaan dan penolakan sosial menjelaskan bagaimana hubungan antar siswa memengaruhi persepsi mereka terhadap lingkungan sekolah.
Peserta didik yang merasa diterima oleh kelompok sebayanya cenderung memiliki kepuasan yang lebih tinggi terhadap kehidupan sekolah, menunjukkan motivasi belajar yang kuat, serta berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku.
Sebaliknya, pengalaman penolakan sosial dapat memicu berbagai dampak negatif, seperti menarik diri dari aktivitas sekolah, rendahnya partisipasi akademik, hingga munculnya perilaku bermasalah. Oleh karena itu, iklim sosial yang inklusif dan saling menghargai menjadi prasyarat penting dalam membangun school engagement yang sehat.
Tiga Dimensi School Engagement
Fredericks, Blumenfeld, dan Paris (2004) mengemukakan bahwa school engagement terdiri atas tiga dimensi utama: behavioral engagement, emotional engagement, dan cognitive engagement.
Behavioral engagement merujuk pada keterlibatan siswa yang tampak secara nyata dalam perilaku sehari-hari. Dimensi ini mencakup kepatuhan terhadap aturan sekolah, partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, serta keterlibatan dalam aktivitas ekstrakurikuler. Siswa yang memiliki behavioral engagement tinggi menunjukkan sikap disiplin, kehadiran yang konsisten, dan kesediaan berkontribusi dalam kegiatan sekolah.
Emotional engagement berkaitan dengan keterikatan afektif siswa terhadap sekolah. Dimensi ini mencerminkan reaksi emosional peserta didik terhadap guru, teman, proses belajar, dan institusi sekolah secara keseluruhan. Perasaan nyaman, aman, dan bangga terhadap sekolah akan memperkuat motivasi intrinsik siswa untuk belajar dan berkembang.
Sementara itu, cognitive engagement mengacu pada keterlibatan intelektual siswa dalam proses pembelajaran. Dimensi ini ditandai dengan kemampuan regulasi diri, penggunaan strategi belajar yang efektif, serta kemauan untuk mengerahkan usaha dalam memahami materi yang kompleks. Siswa dengan cognitive engagement yang baik tidak hanya belajar untuk memenuhi tuntutan, tetapi juga untuk mencapai pemahaman yang mendalam.
Penutup
Dalam konteks pendidikan Islam modern, pendekatan yang menyeimbangkan penguatan akademik, karakter, dan ketahanan mental menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. International Islamic Education Council Republic of Indonesia (IIEC-RI) menempatkan pengembangan school engagement sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikannya.
Melalui lingkungan belajar yang terstruktur, relasi guru-siswa yang suportif, serta program pengembangan minat dan bakat yang beragam, IIEC-RI berupaya menciptakan pengalaman sekolah yang bermakna bagi peserta didik. Pendekatan ini memungkinkan siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki resiliensi mental yang kuat, kesiapan sosial yang matang, serta landasan nilai-nilai Islam yang kokoh.
Dengan menumbuhkan keterlibatan siswa secara menyeluruh—perilaku, emosional, dan kognitif—sekolah dapat menjadi ruang aman bagi proses pembentukan generasi yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing. School engagement, dalam hal ini, bukan sekadar konsep teoritis, melainkan strategi nyata dalam membangun masa depan pendidikan yang berkelanjutan.
Great Students are Produced by a Great School
International Islamic Education Council Republic of Indonesia (IIEC-RI) didirikan di Indonesia sebagai lambang representasi umat Islam terbesar di seluruh dunia. IIEC-RI adalah institusi Pendidikan Islam Internasional yang menaungi sekolah SMP-IISS dan SMA-IIHS (Fullday School), serta IIBS-RI untuk jenjang SD, SMP, dan SMA (Boarding School), dengan konsep menyatukan pendidikan duniawi dan ukhrawi, serta pendidikan yang senantiasa menghadirkan Allah SWT di setiap aspek kehidupan.
Sekolah IIEC-RI berbasis kepada lima pilar kurikulum yang dirancang sebaik mungkin dan terintegrasi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan sehingga menjadikan sekolah ini sebagai sekolah kehidupan. Dimana mencetak anak didiknya, menjadi individu yang terisi segala aspek kehidupan baik itu pola pikir, rohani, jasmani dan keterampilan.
Keunggulan IIEC-RI
International Islamic Education Council Republic of Indonesia (IIEC-RI) adalah sekolah Islam fullday dan boarding yang menerapkan ajaran-ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah yang memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
1. Sekolah Islam International.
2. Terakreditasi A.
3. Overseas Program ke Negara: Jordan, New Zealand, Canada, Scotland, United State dan Australia.
4. Two Years Study Program.
5. Program Tahfidz Quran.
6. Fasilitas Sekolah yang Lengkap.
7. Networking.
8. Mendapatkan Ijazah Nasional (Diknas) dan International (Ijazah IIEC-RI).
Hubungi Kami
Mari bergabung bersama kami, menjadi bagian keluarga besar International Islamic Education Council Republic of Indonesia (IIEC-RI). Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, silahkan hubungi tim Admission kami pada kontak yang tertera di bawah ini:
Email:
– info@iiec-edu.org
Telp:
– +62-811-346-767
– +62-811-116-114
WhatsApp:
– +62-811-346-767 (klik untuk chat langsung)
– +62-811-116-114 (klik untuk chat langsung)
Pendidikan di IIEC-RI adalah berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasul ﷺ yang menghantarkan manusia pada cakrawala ilmu yang terang benderang, melebur tembok-tembok perbedaan serta menembus tabir-tabir kegelapan.
Pendidikan ini mengantarkan anak-anak kita untuk dapat menjadi umat yang mampu mengimplemantasikan Islam secara utuh dan konsisten, karena dengan demikianlah mereka dapat menjadi lokomotif serta menjadi tulang punggung tegaknya kemuliaan hidup di muka bumi ini.


